Batu.kliksurabaya.co.id – Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Kominfo) Provinsi Jawa Timur, Sherlita Ratna Dewi Agustin, menegaskan talenta komunikasi masa depan harus mampu beradaptasi dengan perkembangan kecerdasan buatan (AI), sekaligus tetap menjunjung etika dan nilai-nilai kemanusiaan.
Hal tersebut disampaikan Sherlita saat memberikan orasi ilmiah pada acara Wisuda XXIX Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi Almamater Wartawan Surabaya (Stikosa AWS) Tahun Akademik 2026/2027, di Surabaya, Sabtu (15/8/2026).
Orasi ilmiah Sherlita mengangkat tema “Merawat Makna di Tengah Banjir Informasi: Talenta Komunikasi Masa Depan dalam Era Hiperealitas, Hiper-Informasi, Hiper-Konektivitas, dan AI,” Kegiatan wisuda tahun 2026 tersebut diikuti 82 mahasiswa dan mahasiswi.
Sherlita menjelaskan, perkembangan AI berlangsung di tengah kondisi masyarakat yang semakin dipenuhi informasi dan terkoneksi secara digital. AI kini mampu menghasilkan teks, gambar, suara, video, analisis hingga simulasi yang dapat membentuk representasi mengenai realitas.
Kondisi tersebut, menurut Sherlita, membuat tantangan komunikasi tidak lagi sekadar bagaimana memperoleh informasi, tetapi bagaimana menentukan informasi yang benar, relevan, dan bermakna.
Karena itu, talenta komunikasi masa depan perlu memiliki kemampuan untuk memahami ekosistem informasi, membaca konteks, serta membedakan fakta, representasi, dan interpretasi. Komunikator juga dituntut tidak hanya menjadi content producer, tetapi berkembang menjadi meaning maker.
Sherlita menyebut lima karakter penting yang perlu dimiliki talenta komunikasi masa depan, yakni inovatif, tangkas, kritis, etis, dan humanis.
“Di tengah dunia yang berlomba menghasilkan lebih banyak konten, jadilah orang yang menghasilkan lebih banyak manfaat. Di tengah dunia yang berlomba mendapatkan perhatian, jadilah orang yang layak dipercaya. Jadilah manusia yang tidak hanya mampu membuat pesan, tetapi mampu merawat makna,” pungkas Sherlita.
Sementara itu, Rektor Stikosa AWS Dr. Jokhanan Kristiyono, S.T., M.Med.Kom. mengatakan perkembangan AI telah menyebabkan perubahan besar pada lanskap media dan komunikasi global.
Menurut Jokhanan, kondisi tersebut menuntut insan komunikasi, khususnya para lulusan, tidak hanya menguasai keterampilan teknis konvensional, tetapi juga memiliki daya adaptasi yang tinggi.
“Seorang sarjana komunikasi masa depan harus memiliki ketangguhan mental dalam menghadapi dan memanfaatkan teknologi secara bijak, tanpa meninggalkan etika serta nilai-nilai kemanusiaan. Serta memberikan kontribusi nyata bagi kemajuan bangsa, negara, dan masyarakat luas,” ujar Jokhanan.
Ia menegaskan, wisuda bukanlah akhir dari proses belajar, melainkan gerbang awal bagi para lulusan untuk mengabdikan ilmu dan keahliannya di tengah masyarakat.
Jokhanan juga memberikan apresiasi kepada para wisudawan dan wisudawati atas perjuangan menyelesaikan studi, termasuk mereka yang harus membagi waktu antara pekerjaan dan pendidikan.
Di akhir sambutannya, Jokhanan berpesan kepada para lulusan untuk menjadi pembelajar sepanjang hayat, menjaga integritas, membawa nama baik almamater Stikosa AWS, serta memberikan kontribusi nyata bagi kemajuan bangsa, negara, dan masyarakat luas.(***)









